>>>Risalah Islam dan Kisah Teladan<<< Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk.

AKIBAT MENGAJI KITAB BELUM WAKTUNYA


Benar kata guru-guru kita: Kita harus memperbanyak belajar atau mutolaah daripada memperbanyak mengaji/maknani kitab, tapi tidak pernah dibaca. Juga lebih baik mengaji sesuai tingkatan kemampuan, tidak perlu gede-gedean kitab. Disamping itu kita juga harus cerdas dalam memahami keterangan guru, jangan sok pinter dan selalu paham. Karenannya kita tidak boleh sombong dengan pelajaran dan guru. Karena kesombongan itu akan mendatangkan "walat".

Berikut santri yang kwalat karena kesombongannya tidak mau mengaji kitab yang kecil sesuai tingkataannya. Suati hari ia mengaji kepada Kiyai kitab Tauhdi bab Qodo dan Qodar, padahal kitab itu belum waktunya. Ia memahami keterangan Kiyainya dengan kemampuannya, bahwa Qodo dan Qodar adalah: "Pandumi Gusti Allah yang tidak bisa ditawar-tawar", termasuk semua pekerjaan yang kita lakukan adalah kehendak Allah SWT, begitu ia memahami penjelasan Kiyai. Lalu ia berpikir seorang diri, berarti semua yang aku lakukan ini (baik dan buruk) adalah kehendak Allah, berarti aku tidak salah, begitu ia berpikir dengan percaya diri.

Dengan pemahamannya itu rupannya ia ingin membuktikan kebenaran keterangan Kiyai, dengan cara mencuri ayam Kiyai. Karuan saja perbuatan nekatnya itu membuat Kiyai kehilangan ayam dan penasaran siapa pencurinya. Maka, pada hari berikutnya Kiyai mulai mengawasi kandang ayam dengan bantuan para santri senior. Dan ketika santri tadi sedang mengambil ayam, Kiyai dan para pembantunya yang telah mengawasi, mendekati kandang lalu membentak santri yang kurang ajar itu. Dan ketika ditanya: "kenapa kamu mencuri ayam-ku, kata Kiyai'? Ia menjawab: "semua ini adalah taqdir Allah seperti kata Kiyai dalam pengajian kemarin, bahwa semua perbuatan manusia adalah takdir". Terperanjatlah Kiyai dengan kebodohannya.

Namun kejadian itu belum membuat santri tadi kapok dan tidak merasa salah sama sekali. Maka, disusunlah strategi untuk menangkap santri tadi. Benar saja santri itu datang lagi untuk mencuri ayam. Dan pada saat masuk ke dalam kandang, lalu Kiyai memukulnya dari belakang. Santri itu kaget dan kesakitan. Lau protes kepada Kiyai, kenapa Kiyai begitu tega meyakiti santri Kiyai, begitu protesnya. Kiyai menjawab dengan enteng: "Ini juga takdir Allah, kamu harus saya pukul". Hah…….?! Sadarlah santri tadi bahwa apa yang ia pahami tentang takdir selama ini ternyata salah. Maka, mengajilah sesuai dengan kemampuannya.

0 komentar:

Posting Komentar

Tulis.... Kritik, Saran, Kesan Anda,,,, :)